Contoh Drama Kakak Adik

Untuk sahabat pecinta drama teater, kali ini saya akan berbagi sebuah naskah drama tentang kakak adik yang diharapkan dapat memberikan inspirasi bermanfaat bagi kalian. Contoh naskah drama kakak adik ini dimainkan untuk 3 orang. Namun, jika Anda menghendaki penambahan jumlah pemain, bisa juga dibuat untuk 4 atau 5 orang. Anda hanya tinggal menyesuaikan sedikit peran tambahan saja.

Baiklah, dibawah ini contoh teks drama kakak adik yang dapat Anda jadikan sebagai referensi pembelajaran. Silakan di simak, dan semoga benar-benar berguna bagi sahabat pembaca.

Contoh Naskah Drama Kakak dan Adik


Judul: Kepedulian Terhadap Seorang Saudara
Tema: Sosial
Pemain: 3 orang

Sinopsis


Andi merupakan saudara tertua dari Tina dan Eliana. Andi dan Tina sangat memberi perhatian kepada Eliana yang dianggapnya memiliki sifat dan kebiasaan yang kurang baik. Apapun yang dilakukan Eliana, Andi dan Tina selalu berusaha untuk menegur dan tetap sabar dalam mengingatkan adiknya tersebut.

Dialog


Andi: Eliana, kamu kenapa tidak mau membantu kakakmu?
Eliana: Ngapain harus dibantu segala sih mas? Kan dia sudah besar, masak begitu saja minta dibantu!
Andi: Bukan berarti karena sudah besar dan kamu masih kecil terus kamu nggak mau membantunya. Adik kakak itu kan harus saling tolong menolong.
Eliana: Ah mas Andi ini belain kakak terus kenapa sih!

Karena merasa kasihan dengan adiknya, maka Andi pun membantu Tina. Tina sedang sibuk membersihkan seluruh bagian rumah yang memang terlihat sangat kotor dan tidak seperti biasanya. Maklum, karena memang habis ada angin kencang.

Andi: Tina, mas Andi bantuin ya!
Tina: Nggak usah mas Andi, biar Tina aja yang bersihkan. Mas Andi kan cowok masak cowok bersih-bersih rumah?!
Andi: Lha emang kenapa kalau cowok,, kata siapa cowok itu nggak boleh bersih-bersih rumah?
Tina: Bukannya nggak boleh sih, cuman kurang pas aja dilihatnya, apalagi di rumah ini kan ada aku sama Eliana.
Andi: Iya, tadi aku juga sudah negur si Eliana, tapi dianya emang bandel. Kamu yangs abar aja punya adik kayak Eliana.
Tina: Iya mas.

Setelah hampir satu jam bersih-bersih, rumah mereka akhirnya tampak bersih dari debu dan daun-daun yang berguguran. Mereka kemudian mandi karena waktu memang sudah hampir menjelang adzan Maghrib.

Setelah mereka selesai sholat maghrib, Tina mengajak adiknya, Eliana untuk belajar bersama. Eliana selama ini memang sulit sekali kalau diajak untuk belajar. Bahkan PRnya pun sering tidak dikerjakan.

Tina: Dik (Suara Tina memanggil Eliana yang sedang berada di kamar)
Eliana: Iya, ada apa kak?
Tina: Udah jam belajar nih.. mari belajar sama kakak!
Eliana: Ah kakak ini, baru juga jam 6.30 tapi sudah ngajakin belajar. Kan bentar lagi sudah mau waktu sholat Isya’.

Karena memang sudah menjelang waktu Isya, maka Tina pun tidak memaksa Eliana untuk segera ikut belajar dengannya. Tina akan menunggu adiknya itu sampai dia selesai sholat.

Tina: Ya sudah kalau gitu, kakak tunggu sampai kamu selesai sholat ya!

Jarum jam akhirnya sampai pada angka 19.45 dan Eliana belum terlihat keluar dari kamar. Tina pun kembali mendatangi adiknya tersebut.

Tina: Eliana, ini kan sudah jam 19.45 kok kamu masih di dalam kamar aja. Kamu kan harus belajar!
Eliana: Ah malah lah kak, Eliana udah ngantuk nih. Besok besok kan masih ada waktu untuk belajar. Kan nggak harus malam ini belajarnya.

Tina mencoba membujuk adiknya itu untuk segera belajar, namun si adik juga selalu membantah dan beralasan. Sampai akhirnya Andi mendengar pembicaraan mereka hingga Andi mendatangi mereka.

Andi: Ada apa dik?
Tina: Ini si Eliana diajakin belajar tapi dianya banyak alasan.
Andi: Eliana, kamu itu kan sudah besar. Mestinya kamu itu semakin bisa mikir, bukannya malah susah bener dikasih tahu.

Kali ini Andi terlihat marah dengan Eliana. Maklum, Eliana anaknya memang sangat bandel dan susah dikasih tahu.

Andi: Kalau kamu seperti ini terus, bagaiman masa depan kamu kelak? Kamu mau jadi gembel? Mau jadi apa kamu nanti?
Eliana: memangnya semalam saja nggak belajar akan membuat aku jadi gembel mas? Mas Andi ini ada-ada saja.
Tina: Wusss Eliana, nggak boleh nyolot gitu!

Bukannya merasa takut, tapi Eliana justru berani menjawab omelan Andi. Andi pun akhirnya tidak bicara sepatah kata lagi, kemudian dia memilih keluar rumah. Raut kekecewaan pun tampak di wajah Tina melihat sikap adiknya yang sedemikian parah.

Tina: Eliana, kamu itu harus hormat sama mas Andi. Kamu masih muda, mas Andi itu kan yang paling tua. Kamu harus punya rasa sopan.
Eliana: Memangnya aku nggak sopan ya kak? Memangnya aku ngapain? Kan aku cuman menjawab doang.
Tina: Iya, tapi cara kamu menjawab itu seolah-olah kamu tidak punya rasa takut dan respect sama dia. Salah itu, jangan diulang!

Tina kemudian belajar sendiri sampai jam 9.00. setelah itu dia kemudian masuk kama untuk segera tidur karena dia memang sudah merasa lelah setelah sore harinya melakukan bersih-bersih rumah.
Pagi pun telah tiba, dan Tina mendapati adiknya belum juga keluar dari kamarnya. Padahal sebentar lagi sudah waktunya pergi sekolah. Ia pun bergegas menuju kamar adiknya tersebut.

Tina: Eliana, kamu ngapain aja di kamar? Ini kan sudah jam 5.45, kamu kenapa belum bangun? Bentar lagi sudah waktunya pergi sekolah lho! Ayo bangun, mandi, abis itu sarapan, terus pergi sekolah.

Dari dalam kamar, Eliana sebenarnya mendengar ucapan kakaknya, namun ia enggan beranjak dari kamarnya, dan tetap asyik tidur-tiduran di kamarnya. Merasa tidak diendahkan oleh adiknya, Tina pun memanggil Andi untuk menegur si Eliana.

Tina: Mas Andi, itu si Eliana nggak mau bangun. Bentar lagi kan sudah mau berangkat sekolah, dianya malah asyik di dalam kamar aja.
Andi: Kelewatan adik kamu ini.

Andi langsung menuju kamarnya Eliana. Kali ini Andi lebih tegas lagi dalam menghadapi sikap adiknya itu yang sungguh membuatnya lelah.

Andi: Eliana, kamu mau sekolah apa mau tidur-tiduran di kamar aja? Kalau kamu mau sekolah, lekas mandi dan sarapan. Tapi kalau kamu mau terus tidur-tiduran di kamar, mulai hari ini kamu nggak boleh pake fasilitas yang ada di rumah ini.

Eliana pun merasa kaget dengan sikap Andi yang tidak terdengar seperti biasanya. Kali ini dia merasa takut dengan Andi.

Eliana: Kayaknya mas Andi bener-bener marah nih (bisik Eliana dalam hatinya). Oh iya mas, aku mau mandi nih. Lekas berangkat sekolah.
Andi: iya, buruan nanti kamu telat!

Eliana pun akhirnya pergi sekolah bersama kakanya, Tina. Tina sendiri merasa sangat lega karena adiknya itu akhirnya mau mendengarkan ucapan abangnya, Andi.

Pada hari-hari berikutnya sesudah kejadian itu, Eliana sedikit demi sedikit memperlihatkan perubahan. Meskipun sifat bandel masih melekat pada dirinya, namun kali ini dia bisa lebih lunak dan mau mendengar ucapan Andi dan Tina.

The END

Itulah contoh skenario drama pendek tentang kakak adik yang dapat saya share dengan sahabat pecinta drama pada kesempatan kali ini. Semoga kedepannya makin banyak referensi naskah drama yang bisa saya share dengan sahabat pembaca.


Referensi contoh naskah drama » contohskripdrama.blogspot.com

Post title: Contoh Drama Kakak Adik
Written by: Lika Amalia

Apabila Anda ingin copy-paste artikel, dimohon dengan sangat untuk menyertakan link yang menuju ke laman artikel Contoh Drama Kakak Adik ini.

Jika artikel diatas bermanfaat, silakan like/bagikan dengan teman Anda di social media dengan menggunakan widget share dibawah ini.

0 Response to "Contoh Drama Kakak Adik"

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar / pesan!

- Dilarang meninggalkan link aktif pada kolom komentar.
- Dimohon untuk tidak melakukan spam
- Berkomentarlah secara etis
- Mohon maaf apabila kami tidak sempat membalas komentar Anda
- Terimakasih atas komentar Anda yang bernilai